Minggu, 21 Agustus 2016

Menjulangkan Bahasa Ibu Kita


Budaya (termasuk juga bahasa) adalah hasil kreatif dari bangsa pemiliknya. Persentuhan dan saling pengaruh mempengaruhi dengan budaya lainnya tentu tak dapat pula dipungkiri. Semakin terbuka suatu bangsa, maka semakin kompleks lah persentuhan budaya yang terjadi di dalam masyarakatnya. Budaya dan juga bahasa akan bertahan di masyarakat pemiliknya, tinggal kemudian keberlangsungannya sebagai budaya dan bahasa kaum apakah akan tetap tegak berdiri di tengah hantaman badai besar yang bertopengkan nasionalisme dan modernisme.

Berdasarkan penelitian-penelitian ter-muta-akhir, ternyata kini tak sedikit bahasa-bahasa kaum di Kepulauan Melayu ini yang terancam punah karena semakin kuatnya cengkeraman Bahasa Nasional, cengkeraman yang mendominasi dan memangsa bahasa ibu-nya sendiri. Bahkan ada juga beberapa kasus kekerasan oleh tentara nasional terhadap orang perorangan di negara ini karena orang tersebut tidak fasih berbahasa nasional.

Sudah jamak diketahui bahwa Bahasa Melayu merupakan lingua franca di Kepulauan Melayu ini, bahasa yang kemudian diklaim sebagai Bahasa Indonesia (bahasa persatuan, bahasa nasional di republik ini). Bahasa Nasional tersebut kini semakin hari semakin jauh meninggalkan kaidah dan kearifan Bahasa Melayu. Karena apa? Mungkin salah satu sebabnya karena Bahasa Nasional tersebut sudah melupakan identitas sejatinya, bahkan telah dengan sembarangan mengubah-ubah nama yang sejati dari bahasa tersebut (dengan sembarangan diubah menjadi bernama “Bahasa Indonesia”, padahal sejatinya bernama “Bahasa Melayu”, itulah salah satu upaya melupakan dan menenggelamkan identitas aslinya). Untungnya penutur asli Bahasa Melayu hingga kini masih bertahan (di negerinya masing-masing ataupun di negeri rantau) dengan berbagai macam ragam dialeknya.

Sungguh pun begitu, di masing-masing negeri Melayu juga tak luput dari kekhawatiran akan keberlangsungan Bahasa Melayu-nya di tiap-tiap negerinya. Apa pasal? Tentu begitu banyak pula penyebabnya: media massa, tren (mode), pergaulan, bahkan juga sistem pendidikan, yang kesemuanya itu dibayang-bayangi oleh Puaka Globalisasi, ditakut-takuti oleh Hantu Modernisasi, dihembus-hembusi oleh Angin Surga Nasionalisme. Mungkin tak sedikit kini orang-orang Melayu yang sudah malu berbahasa Melayu, apalagi berbahasa Melayu dialek negeri kampong halamannya.

Bagi para puteranya yang sadar akan kenyataan ini, sudah semestinya bergandengan tangan seiring sejalan menghalau anasir-anasir gelap berwujud monster itu, raksasa-raksasa buas nan beringas yang akan menginjak-injak dan memusnahkan bahasa ibunya, bahasa negeri tanah kelahirannya, bahasa kampong halamannya, yang dengan keagungan bahasa ibunya itulah dirinya tumbuh dan dibesarkan menjadi putera-puteri negerinya.

Orang-orang Melayu sekarang merasa maju dengan berbahasa seperti di televisi, atau berbahasa seperti pendatang dari luar negeri kampong halamannya. Boleh jadi semua itu dimusababkan karena orang-orang Melayu sangat terbuka dengan orang-orang luar yang dianggap lebih maju. Mereka tak sadar bahwa yang dari luar itu bakal pelan-pelan memangsa seni, budaya, adat, dan bahasa kampong halamannya sendiri. Dan hingga kini orang-orang Melayu kebanyakan masih tak sadar-sadar lagi.

Ada cerita seorang kawan yang berasal dari salah satu negeri di Borneo Barat. Suatu waktu ia ke satu kota yang tak jauh dari kotanya, yang masyarakat kota tersebut juga berkomunikasi menggunakan Dialek Bahasa Melayu yang sama seperti di kotanya. Selama di kota tersebut, ia pun berbahasa Melayu dengan Dialek Bahasa Melayu yang biasa dipergunakannya berkomunikasi di kampong halamannya sendiri. Tapi ada perasaan agak aneh ketika itu, ia merasa diperlakukan macam orang dari planet lain.

Menurut kawan itu, di kota yang dikunjunginya tersebut kini orang-orangnya sudah agak kacau balau dalam hal berbahasa Melayu. Sejauh yang diamatinya, di tempat-tempat formal atau di hadapan umum, orang-orang Melayu di kota tersebut kini lebih sering mengamalkan Bahasa Melayu Baku (yang kini lebih sering disebut bahasa indonesia), lebih tepatnya seperti bahasanya orang-orang di pusat kekuasaan negara ini (alias Jakarta). Kadang ia merasa geli mendengarnya, karena begitu nampak logatnya, kebetulan ia juga pernah bertahun-tahun merantau. Logat yang dimaksud yaitu campur-gaul, macam orang yang tak punya jati diri dalam berbahasa.

Samalah halnya macam budak-budak Melayu di kampong halaman saya yang suka labe-labe alias lagak-lagak bercakap macam orang-orang di Jakarta. Rasanya ingin tertawa mendengarnya. Berhawa juga bercakap-cakap macam orang-orang di Jakarta, tapi logat dan aksen Melayu-nya tetap tak dapat ditutup-tutupinya. Bagi budak-budak Melayu yang berasal dari kampong halaman saya yang pernah merantau ke Jakarta, yang setiap harinya di Jakarta ia bercakap-cakap menggunakan bahasanya orang Jakarta tentu dapat tau bahwa bahasa yang dicakapkan oleh budak-budak dari kampong halaman saya yang suka labe-labe bercakap macam orang-orang di Jakarta itu sungguh bunyinya aneh.

Demikianlah adanya kenyataan berbahasa di hampir merata negeri-negeri Melayu kini. Upaya terkecil yang mungkin dapat dilakukan kini adalah kembali mendedahkan bahasa kita, bahasa ibu kita, bahasa nan agung yang hingga kini masihlah menjadi lingua franca di Kepulauan Melayu ini. Dan takkan pernah lelah-lelahnya kita melaungkan bahasa ibu kita ini. Kita dilahirkan serta dibesarkan di bawah naungan bahasa yang masyhur nan bertamaddun ini, maka kita pulalah yang akan berterus-terusan menjaga dan menjulangkannya. #*#


Hanafi Mohan
Tanah Betawi, Mei 2015


Reaksi:

0 ulasan:

Posting Komentar