Jumat, 07 Maret 2014

Pesanggrahan, 12 Tengah Hari


Hari ini adalah hari ke-tiga awal masa perkuliahan semester genap tahun akademik 2013/2014. Ciputat berdetak terus dengan segala aktivitas warganya. Pada awal masa perkuliahan ini, Kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tentunya tak seperti hari-hari biasa pada liburan semester. Jalan Pesanggrahan yang biasanya pada saat liburan agak sepi, kini kembali normal. Seperti apakah normalnya Jalan Pesanggrahan? Coba saja keluar pada saat istirahat makan tengah hari (makan siang), sekitar jam 12 hingga jam 1 tengah hari.

Jalan Pesanggrahan adalah jalan di samping Kampus 1 UIN Jakarta, yang merupakan jalan pemukiman. Di jalan ini ramai masyarakat dan mahasiswa yang bermukim. Di masa-masa aktif perkuliahan, Jalan Pesanggrahan ini sungguhlah padat. Puncak kepadatannya yaitu ketika istirahat makan siang. Mahasiswa, Pegawai UIN Jakarta, dan entah siapa-siapa lagi penuh berjejal-jejal memenuhi badan jalan demi memenuhi hajat kampong tengah yang harus segera diisi, juga hajat-hajat lainnya (memfoto-kopi, menulis tugas di rental komputer, mencari data di warung internet, dan sebagainya, dan sebagainya). Dari para pejalan kaki, motor, mobil, semuanya tumpah ruah di satu jalan ini. Belum lagi ditambah dengan para penjual makanan dan minuman, pengamen, pengemis, dan sebagainya yang juga berkepentingan di jalan yang sangat ramai ini.

Cuaca Tanah Betawi pada saat tengah hari ini sangatlah cerah, walaupun mentari tak terlalu benderang sinarnya. Sungguh pun begitu, panas khas Tanah Betawi jangan ditanyakan lagi bagaimana menyengatnya, panas yang bercampur dengan polusi, panas yang mengendap, panas yang anginnya pun terasa panas. Bulir-bulir peluh sudahlah pasti bereaksi, angin pun enggan untuk berhembus. Kalaupun ada angin yang berhembus, ya itu tadi, angin yang lebih banyak unsur panasnya dibandingkan unsur sejuknya. Angin yang kering.

Riuh rendah suara tentulah pula tak terkira, belum lagi ditambah dengan raungan para pengamen dengan berbagai macam ragam jenis musik. Yang begitu berkesan dari musik yang dipersembahkan oleh satu pengamen kali ini adalah lagu era ’80-an - ’90-an. Lamat-lamat terdengar seperti suaranya biduanita yang bernama Dian Piesesha. Dan memang suara Dian Piesesha adanya yang terdengar itu. Si Pengamen cukup sambil membawa seperangkat Tape Kaset, lalu menyetel perangkat audio itu keras-keras, sambil satu persatu menyinggahi kedai-kedai makan yang dipenuhi oleh orang-orang yang sedang kelaparan.

Lagu-lagunya Dian Piesesha ini telah mampu membawa suasana nostalgia ke masa-masa bertahun-tahun silam. Tapi tetap saja suara merdu Dian Piesesha tak mampu mengusir panas yang menyengat di tengah hari ini. Dan Jalan Pesanggrahan tetap tegar dengan suasananya yang ramai berjejal-jejal yang dilengkapi dengan suara yang riuh rendah tak terkira. [HM, Tanah Betawi, 5-6 Maret 2014]


* Sumber foto ilustrasi: Fans Page "Jl. Pesanggrahan Samping UIN Ciputat"


** Tulisan ini dimuat di Laman Blog "Arus Deras"

Reaksi:

0 ulasan:

Posting Komentar